Rabu, 26 Februari 2020

Best Practice Lebih Mudah dari PTK

Pemateri: Bapak Asep Suparman, M.Pd (Kepala Sekolah Berprestasi Berkat Literasi)
Pemateri kali ini seorang Kapala SMK berprestasi berasal dari Rejang Lebong. Mengenal sepak terjang kepala sekolah yang satu ini membuat saya berdecak kagum. Tanggung jawab sebagai kepala SMK yang disandang tidak membuatnya lantas tenggelam dalam rutinitas tugas mengelola sekolah. Pemateri juga aktif sebagai sekretaris PGRI di Kabupaten Rejang Lebong. Sebelum menularkan ilmunya dalam menulis karya andalannya, beliau sempat menceritakan kegiatan hari ini. Pemateri kita menceritakan tentang pendampingan yang dilakukannya dalam membela seorang guru yang mengalami tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua siswa.
Dengan mengenalkan gaya menulisnya, pemateri membuat penegasan bahwa menulis itu mengasyikkan dan dapat dilakukan di sela-sela kegiatan. Pemateri menyarankan untuk menuliskan apa yang kita kerjakan dalam keseharian. Kegiatan menulis yang dialkukan oleh pemateri diawali dengan keikutsertaannya dalam lomba menulis yang diadakan oleh Dirjen GTK Kemdikbud yang digelar secara rutin setiap tahun.
Kegemaran narasumber mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh Kemdikbud dibuktikan dari keikutsertaanya dalam: Lomba Guru Berprestasi, Lomba menulis Best Practice dan masih banyak lagi. Dari lomba yang diikuti tersebut, beberapa prestasi yang berhasil diraih pemateri adalah sebagai finalis guru SMK berprestasi tingkat nasional pada tahun 2012, menjadi juara 2 lomba best practice Kepala Sekolah Tingkat nasional di tahun 2018, dan pada tahun 2019 menjadi juara ke-3 menulis buku non-fiksi tingkat nasional.
Karya paling berkesan yang dimiliki oleh pemateri adalah sebuah buku yang berasal dari pengembangan karya best practice-nya. Karya tersebut diberi judul “Pasir menjadi Mutiara”. Buku ini menceritakan tentang perjuangan pemateri kita dalam menghasilkan tamatan mumpuni yang bermutu tinggi. Tantangan besar yang dihadapi pemateri dalam melahirkan tamatan berkualitas ini bukanlah hal yang mudah. Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah input siswa yang kurang mendukung untuk menghasilkan tamatan berkualitas. Pengalaman menulis best practice ini, menjadikan pemateri memiliki pengalaman yang baik dalam menulis sebuah karya best practice.
Beberapa tips yang diberikan oleh pemteri dalam membuat best practice saya tuangkan dalam rangkuman berikut:

  1. Carilah masalah yang akan diangkat
  2. Lakukan inovasi untuk memecahkan masalah tersebut secara kontinyu dan dokumentasikan
  3. Jika inovasi yang sudah dilakukan membuahkan hasil, baru dilanjutkan dengan menyusun tulisan sesuai dengan aturan sistematika best practice
  4. Agar tulisan best practice menjadi menarik, buatlah judul yang memancing keingintahuan pembaca yang oleh pemateri disebut sebagai judul yang “seksi”
Pemateri pada kegiatan belajar malam ini menyemangati saya dengan menyebutkan bahwa menulis best practice lebih mudah dibandingkan menulis Penelitian Tindakan Kelas karena best practice lebih sederhana. Pemateri mengajak untuk mencermati lingkungan sekolah dan menemukan masalah yang ada dengan latar belakang tertentu. Setelah diketemukan suatu masalah, kita dapat mencari solusi yang jitu dalam menghadapinya. Kegiatan itu kita kenal dengan istilah ”Problem Solving”.
Gambaran sistematika sederhana sebuah karya “best practice”, diuraikan oleh pemateri dalam ringkasan berikut:

  1. Bab I Pendahuluan
  2. Bab II Tinjauan Pustaka
  3. Bab III Metode. disinilah perbedaan antara best practice dengan PTK nampak jelas. Metode yang dituliskan dalam sebuah naskah best practice tidak serumit yang terdapat pada PTK. Pada best practice penulis hanya perlu menyiapkan instrumen dan prosedur penyelesaian masalah yang ditemukan.
  4. Bab IV Hasil dan Pembahasan
  5. Bab V Kesimpulan, dan terakhir adalah bagian
  6. Daftar Pustaka

Penegasan yang diberikan pemateri adalah waktu penulisan best practice yang memiliki kecenderungan lebih lama dibanding PTK karena merupakan praktek terbaik yang dilakukan guru. Namun demikian best practice tidak perlu diujikan kepada ahli tertentu sepanjang guru telah menguasai metode pelaksanaan dan penulisan best practice.
Kesimpulan penting yang disajikan pemateri di akhir pertemuan adalah:
  1. Setiap orang bisa menulis, khususnya menulis best practice
  2. Best practice merupakan pengalaman/ praktik terbaik yang dilakukan secara kontinyu dalam upaya problem solving yang ada di sekolah
  3. Yang terpenting dalam pelaksanaan best practice adalah seberapa besar dampak positif yang terjadi
  4. Harus terdapat perbedaan hasil dari sebelum dan sesudah inovasi dengan best practice
  5. Pembuatan judul harus menarik dan berhubungan dengan isi yang dituliskan dalam best practice

Semoga beberapa tips dan trik menulis “best practice” ini dapat menginspirasi munculnya penerapan problem solving dalam kegiatan pembelajaran kita.

Indinah (resume 16, BM gel 2, 24 Pebruari 2020)


Menulis Online sebagai Eksistensi di Dunia Maya

Pemateri: Bapak Wijaya Kusuma
Pertemuan malam ini di kelas belajar menulis gelombang kedua kembali diisi oleh Bapak Wijaya Kusuma sebagai penggagas kegiatan belajar menulis ini. Bapak Wijaya Kusuma menceritakan bahwa kegiatan menulis secara online telah mengantarkannya berkeliling Indonesia. Seperti kegiatannya hari ini yang telah bertemu dengan rektor di salah satu perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur dan seorang kawan yang merupakan pengurus PGRI pada kongres PGRI yang dihadirinya. Pertemuan ini telah menelurkan nota kesepahaman (MOU) antara mereka yang isinya kesepakatan melakukan pelatihan e-learning.  Ide ini digagas oleh seorang pakar e-learning Indonesia yaitu Bapak Onno Widodo Purbo.
Bapak Onno Widodo Purbo merupakan ahli e-learning yang membangun server e-learning untuk rakyat. Bapak Onno juga menjabat sebagai salah satu pembina ikatan guru TIK PGRI. Pak Onno banyak memberikan masukkan kepada anggota ikatan guru TIK untuk berupaya mengembalikan TIK sebagai mata pelajaran di sekolah. Perjuang terus menerus digaungkan oleh guru TIK, agar TIK tidak digantikan oleh Prakarya. Perjuangan mengembalikan TIK sebagai mata pelajaran di sekolah dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang dilakukan oleh narasumber adalah langsung kepada Menteri Pendidikan kala itu yang kala itu dijabat Bapak Muhajir Effendy dan melalui media online. Perjuangan melalui media online dilakukan melalui tulisan-tulisannya.
Saat memperjuangkan nasib guru TIK inilah narasumber kita merasakan dasyatnya kekuatan kata-kata. Dari 7 orang guru yang siap menemui mendikbud, guru TIK se Indonesia tergerak untuk ikut menyampaikan aspirasinya. Kekuatan tulisan melalui media online juga dirasakan oleh narasumber kita, ketika hasil tulisannya membuahkan undangan makan siang bersama prosiden Joko Widodo. Tulisan tersebut merupakan hasilnya bersama teman-teman blogger yang diunggah melalui kompasiana. Dari situ, narasumber terus memperjuangkan untuk merubah paradigma masyarakat khususnya guru dari download menjadi upload.
Narasumber menggambarkan bahwa menulis melalui blog merupakan alat rekam ajaib. Keajaiban alat rekam ini akan terasa saat kita mengelola sebuah blog pribadi. Memiliki blog sendiri memiliki nilai lebih jika dibandingkan dengan menulis pada blog bersama. Blog yang kita kelola sendiri akan memberikan kebebasan dalam pengelolaan. Blog pribadi dapat dibuat dengan melalui blogger.com atau wordpress.com. Narasumber juga menyarankan pemula yang ingin belajar mengelola blog bisa mencoba menggunakan blog gratis terlebih dahulu. Jika telah mahir dalam pengeloaan sebuah blog, barulah mencoba pengelolaan pada blog berbayar.
Ibu Rosiana Febriyanti sebagai salah seorang anggota komunitas belajar ini misalnya telah mengelola blognya dengan baik hingga membuahkan banyak hadiah kejutan. Hadiah yang diperolehnya berasal dari komunitas sejuta guru ngeblog (KSGN). Manfaat lain menjadi seorang yang aktif menulis di dunia maya adalah orang ramai jadi mengenal kita melalui tulisan-tulisan kita yang telah mereka baca.
Kesimpulan yang disampaikan oleh narasumber kita pada akhir sesi ini adalah “menulis online sangat membantu kita untuk lebih eksis dalam menulis. Tulisan kita juga banyak dibaca orang apabila kita menuliskan sesuatu yang informatif dan menarik”
Demikianlah resume kegiatan malam ini, semoga menjadi “lecutan” semangat bagi kita untuk berpartisipasi dalam dunia kepenulisan.

Indinah (resume 15, BM gel 2, 23 Pebruari 2020)

Kamis, 20 Februari 2020

Belajar Menulis dengan Writer Plus


Pemateri: Ibu Melni, Moderator: Ibu Hidmi Gramatolina Ramdhayani
Narasumber pada malam ini Ibu Melni. Pelajaran berharga yang saya peroleh pada diskusi malam ini adalah berkenalan dengan aplikasi Writer Plus dan merupakan ilmu baru bagi saya. Aplikasi ini dapat digunakan untuk mempermudah menulis. Narasumber mendeskripsikan bahwa writer plus adalah aplikasi penulisan tanpa gangguan dan gangguan dari pengolah kata tradisional. kegunaan aplikasi ini untuk menulis catatan ataupun konsep di ponsel atau tablet. Kelebihan yang saya rasakan dalam mencoba menggunakan, aplikasi ini mampu mengubah rekaman suara menjadi bentuk teks. Dengan bantuan aplikasi ini, saya dapat menyimpan gagasan yang muncul sewaktu-waktu dan menyimpannya dalam bentuk teks. Hebatnya lagi, teks yang tertulis dapat dibagikan dalam berbagai bentuk file melalui berbagai pilihan aplikasi.
Untuk memulai menggunakan aplikasi Writer Plus, kita bisa melakukan download aplikasi tersebut melalui Playstore. Aplikasi ini tergolong aplikasi ringan dan mudah digunakan. Aplikasi ini disebut ringan karena waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aplikasi ini cukup singkat dan hanya menggunakan 2,75 MB dalam penyimpanan internal pada gawai kita. Aplikasi ini pun mudah digunakan dengan menu yang sederhana dan kemampuannya menuangkan rekaman suara menjadi bentuk teks. Kemampuan merubah rekaman suara menjadi teks inilah yang paling saya sukai.
Cara membuat catatan melalui rekaman suara dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Buka aplikasi writer plus yang sudah terinstal
  2. Klik tanda tambah berwarna hijau yang terdapat pada bagian sudut kanan bawah
  3. Klik gambar mikrophone di bagian atas keyboard yang muncul
  4. Ucapkan kata-kata yang ingin direkam selagi mikrophon masih berwarna hijau
  5. Setelah muncul teks, tekan tanda silang di sebelah kanan gambar mikrophon
  6. Hilangkan keyboard pada layar gawai dengan menekan tanda panah di bagian paling bawah sebelah kanan
  7. Lanjutkan tekan tanda panah disebelah kiri atas, kemudian kita bisa lihat hasil catatan yang berasal dari hasil rekaman suara kita
Pelajaran berikutnya yang saya peroleh adalah bagaimana cara membagikan hasil catatan kita pada writer Plus. Berikut caranya:
  1. Buka aplikasi Writer Plus, kemudian pilih teks yang akan dibagikan
  2. Lalu klik tanda titik tiga kemudian pilih menu yang ingin dipilih, dalam hal ini pilihlah “share”
  3. Selanjutnya pilih Text file untuk membagikan dalam bentuk teks
  4. Kemudian pilih aplikasi berbagi yang kita inginkan dan lakukan sebegaimana prosedur membagikan dokumen pada aplikasi yang kita pilih seperti biasanya.

Demikian hasil belajar menggunakan aplikasi Writer Plus yang telah saya lakukan bersama Ibu Melni, semoga menambah informasi kita semua tentang aplikasi-aplikasi bermanfaat yang dapat menunjang kegiatan kita. Sehingga inspirasi yang muncul dimana saja dan kapan saja dapat segera kita dokumentasikan dan menjadi behan tulisan kemudian.
Semoga ilmu baru yang dapat dalam kegiatan “Belajar Menulis Gelombang 2” yang diprakarsai oleh Bapak Wijaya Kusuma “Om Jay” ini dapat menjadi informasi yang bermanfaat.

Indinah (resume 14, BM gel 2, 19 Pebruari 2020)

Dengan Menulis Aku Berpetualang



Pemateri: Ibu Hati Nurahayu (Bandung), Moderator: Ibu Hidmi Gramatolina Ramdhayani (Lombok)
Malam ini, kami kembali bertemu dengan narasumber luar biasa dengan segudang karya dan penghargaan. Narasumber kita seorang Ibu hebat, ibu dengan lima orang anak yang mampu menelurkan karya-karya luar biasa disaat senggang bersama buah hatinya yang mayoritas balita. Narasumber kita membuktikan bahwa kesibukan sebagai seorang Ibu, tidak mampu membelenggu kreatifitasnya untuk berkarya. Mari kita simak sekelumit kisah narasumber kita yang saya tuangkan dalam catatan sederhana ini.
Narasumber merupakan seorang pendidik di salah satu sekolah swasta di Bandung sejak 16,5 tahun yang lalu. Pengalaman menulis narasumber dimulai ketika pada tahun 2002 beliau mengenal Bapak Yusuf Hilmi Adisenjaja sebagai dosennya ketika menempuh pendidikan di bangku kuliah.  Dari beliau, narasumber mendapatkan inspirasi untuk menulis. Karya pertama yang dihasilkan oleh narasumber adalah Hikmah Diharamkan Darah yang berhasil dimuat pada Majalah Karimah. Beberapa tahun dari karya pertama tersebut, narasumber sempat vakum dalam dunia kepenulisan.
Baru pada tahun 2007, narasumber kembali menghasilkan karya tulis dalam bentuk PTK. PTK hasil tulisan narasumber kemudian dikirimkan kepada P4TKIPA sesuai arahan Bapak Kepala Sekolah kala itu. Melalui PTK tersebut, narasumber tampil sebagai pemakalah perwakilan Propinsi Jawa Barat dalam seminar internasional yang diadakan oleh sedec.
Tahun berikutnya narasumber kembali berkiprah dalam dunia kepenulisan dengan mengirimkan proposal penelitian kepada LPMP Jawa Barat. Proposal yang dikirimkannya lolos menjadi salah satu penerima dana Block grant penelitian. Berikutnya, secara berturut-turut PTK yang diajukan pada tahun 2015 hingga 2019 selalu diterima.
Mencoba hal baru, narasumber kemudian mengikuti kegiatan diseminasi literasi dengan membuat tulisan dalam bentuk narasi. Kegiatan tersebut diikuti pada tahun 2017, dengan sebuah karya narasi berjudul “Peuyeum Bandung”. Karya yang dibuat dadakan dalam waktu 6 hari sebelum deadline tersebut awalnya mendapat cibiran dari beberapa kolega yang sempat dimintakan komentar. Saat itu, narasumber ingin memastikan apakah tulisan yang dibuat sudah benar berbentuk narasi. Diluar dugaan narasumber, karya yang diikutkan dkompetisi dengan prinsip: “ kirim dan lupakan” tersebut justru meraih penghargaan pemenang terbaik 1. Ide menulis karya Peuyeum Bandung ini muncul karena narasumber ingin mengangkat sains dan bioteknologi dengan gaya narasi.  Dalam Peuyeum Bandung juga terdapat nilai kearifan lokal, karakter, religi, dan keterampilan yang ingin diangkat oleh narasumber sebagai tulisan. Bagi narasumber, menulis merupakan pengisi waktu saat pekerjaan rumah tangga telah selesai. Narasumber pun memiliki pendapat bahwa menulis merupakan “refreshing otak”. 
Saat awal menulis, narasumber belum mengenal keberadaan penerbit indie. Narasumber sempat menawarkan naskah bukunya pada penerbit-penerbit. Dari beberapa naskah yang ditawarkan, terdapat 2 buku yang berhasil terbit yaitu tentang Reptile dan Mengenal Ekosistem yang diterbitkan oleh penerbit Mitra Sarana, serta Kreasi dari Kain Flanel yang diterbitkan oleh Rosda Karya. Baru setelah mengikuti kegiatan diseminasi literasi, narasumber mengenal penerbit indie diantaranya penerbit Majas yang dikomandani oleh Ibu Emi Sudarwati. Hobby menulis yang dimiliki oleh narasumber membuat banyak kawan yang meminta bantuannya untuk melakukan editing pada karya tulis mereka. Hingga saat ini terdapat 200an buku naskah guru yang telah diedit oleh narasumber kita.
Pada bulan Oktober tahun 2019, narasumber berinisiatif untuk mengelola sebuah penerbitan indie sendiri. Penerbit tersebut diberi nama Tata Akbar. Penerbit yang baru berkiprah tersebut telah mampu menerbitkan 50 naskah buku, dan masih memproses 45 naskah baru lagi.
Motto menulis narasumber adalah “Dengan menulis aku berpetualang. Dari tidak bisa menjadi bisa. Jangan pernah takut untuk mencoba, dan hasilnya serahkan pada Allah S.W.T. Narasumber tidak menjadikan menulis adalah sebuah target namun media penyegaran sambil bersama anak-anak yang masih balita. Bahkan narasumber juga menyampaikan bahwa foto-foto unik yang sederhana juga dapat menjadi ide di dalam menulis.
Narasumber juga memiliki pengalaman menulis buku bersama penulis ternama seperti Marthen Kanginan. Pengalaman ini diperoleh melalui sahabatnya di bangku kuliah yang menjadi editor Bapak Marthen Kanginan. Sungguh kesempatan luar biasa yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Dalam kegiatan diskusi ini, narasumber juga membagikan trik merubah naskah PTK menjadi sebuah buku. Berikut trik yang narasumber bagikan:
Bab I menjadi bab pendahuluan dengan komposisi tanpa rumusan masalah, manfaat, dan definisi operasional. Tambahkan bagian kesenjangan, dan pernyataan: buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang berjudul ....
Bab II ditulis dari sub bab 2.1 pada PTK
Bab III ditulis dari sub bab 2.2 dalam PTK
Bab IV berasal dari sub bab 2.3 dalam PTK
dan
Bab V merupakan hasil penelitian dan pembahasan
dibagian awal diberi pengantar:
Uraian pada bab ini diangkat dari hasil PTK yang dilakukan di ... pada ....
dilanjukan dengan kalimat:
Data yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah ... yang dikumpulkan dengan instrumen ... lalu dianalisis dengan ...
kemudian sub bab berikut mengikuti pada bab hasil penelitian dan pembahasan.
Kesimpulan di akhir diskusi yang disampaikan oleh narasumber adalah:
1.       Intinya menulis saja apa yang kita mau dan ada di benak kita
2.       Ikuti sistematika penulisan pada tulisan yang kita buat
3.       Fokus pada buku yang dirancang jika ingin membuat buku
4.       Tulislah outline terlebih dahulu.
5.       Mau mencoba hal yang menurut kita tidak mungkin
6.       Miliki sikap dan cara tersendiri dalam menyelesaikan karya
7.       Masalah hasil, dilihat kemudian yang terpenting niatan berkarya
8.       Dan lagi-lagi kata-kata provokatif dari narasumber kita yang saya angkat sebagai judul yaitu: “Dengan menulis aku berpetualang”
Menjadi penutup kegiatan berdiskusi bersama narasumber malam ini.


Indinah (resume 13, BM gel 2, 17 Pebruari 2020)

Menulis dengan HATI



Pemateri: Bapak Alpiyanto (Founder dan Master Trainer Samudera Hati)
Narasumber kita malam ini adalah sosok yang komplit. Ibarat sebuah menu, narasumber adalah empat sehat lima sempurna. Beliau seorang master trainer Samudera Hati, Certified Trainer Magnet Rejeki, Konsultan Pendidikan dan seorang penulis.
Pengalaman menulis narasumber bermula dari catatan kecil di buku catatan. Kemudian terinspirasi untuk menulis dan mengikuti pelatihan enulis selama 2 hari. Pada saat mengikuti kegiatan pelatihan, narasumber sempat membagikan hasil tulisannya kepada pemateri peltihan pada saat itu. Trainer pelatihan sempat mengatakan “Kalau jadi buku tulisan ini, maka akan bes seller”. Tulisan yang dibaca trainer saat senagn menulis. Dengan motivasi dari trainer kala itu, narasumber kita mengembangkan tulisannya dan mengirimkan pada dua penerbit. Namun naskah yang telah ditulis tersebut ditolak oleh penerbit.
Setelah mengikuti training, pembicara kita mendapatkan undangan untuk memberikan training motivasi di Muara Enim. Training ini diikuti oleh 800 peserta pendaftar. Saat memberikan training, salah seorang peserta brtanya pada narasumber apakah materi yang disajikan oleh narasumber telah dituangkan dalam bentuk buku dan menginginkan untuk membeli buku tersebut. Berbekal pertanyaan tersebut, narasumber kemudian memperbaiki naskah awal tulisannya. Pada kesempatan lain dalam mengisi seminar di Banjarmasin, narasumber nekat mencetak 1000 buku dengan modal pinjaman teman. Seminar di Banjarmasin tersebut diikuti oleh 1200 peserta, sayangnya buku yang telah dicetak tersebut terlambat datang sehingga narasumber menyampaikan pada peserta seminar bahwa buku karya narasumber akan sampai pada keesokan harinya jika berkenan memiliki. Dalam kegiatan seminar tersebut, 300 orang peserta seminar memesan dan membeli bukunya.  
Rahasia yang dibagikan narasumber kita malam ini dalam membuat tulisan digambarkan dalam kalimat sederhana yang menarik “menulis ya menulis, tidak boleh dibaca. Dibaca baru keesokan harinya. Karena jika dibaca, tidak akan pernah jadi”. Dalam menulis buku, narasumber lebih memilih buku “how to” karena lebih dibutuhkan dan mudah bagi pembaca. Dari pengalaman menulisnya, Bapak Alpiyanto memiliki kecenderungan untuk menulis, mendesain cover, dan mencari penerbit untuk mencetak karyanya kemudian memasarkan sendiri dalam pelatihan atau seminar yang diselenggarakannya. Narasumber tidak ingin mencetak bukunya melalui penerbit.  Ide menulis  didapatkan oleh narasumber dengan berbagai cara antara lain: pengalaman pribadi sebagai seorang guru, mendengar keluhan teman, ataupun dengan menghimpun harapan dan masalah dari peserta seminar melalui kertas catatan yang dibagikan oleh narasumber setiap kali memberikan materi seminar.
Sebagai trainer dalam seminar, narasumber kita belajar dalam public speaking setelah membaca kisah inspiratif dalam Buku “Quantum Learning”. Dalam buku tersebut diceritakan tentang keberadaan seorang orator dunia yang berasal dari Inggris. Orator tersebut adalah seorang yang gagap. Mengetahui kisah tersebut, narasumber yang seorang pemalu berupaya untuk mampu berbicara dengan baik sebagai seorang trainer.  Strategi narasumber ketika menjadi trainer adalah dengan niatan membagikan pengalaman, bukan untuk memberikan training. Narasumber juga bersikap ikhlas dan tidak mengharapkan honor. Dengan startegi tersebut, narasumber mampu mengisi acara training dengan tanpa beban dan mengalir. Gaya mengalir yang dimiliki oleh narasumber memberikan rasa puas pada peserta workshop dan seminar yang diampunya. 
Pengalaman narasumber sebagai seorang penulis, membuatnya mampu memberikan pelatihan menulis buku. Saran narasumber pada penulis pemula “Menulislah dari pengalaman karena menulis dari pengalaman lebih mudah dari tersenyum”. Saran sederhana yang menggugah semangat seorang penulis pemula seperti saya. Saran tersebut dilontarkan narasumber senada dengan kutipan kata-kata JK. Rowling dalam salah satu bukunya “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan persaanmu sendiri”. Kata-kata kutipan tersebut menjadi penutup materi yang disampaikan oleh narasumber. Semoga bermanfaat.

Indinah (resume 12, BM gel 2, 15 Pebruari 2020)

Menerbitkan Buku di Penerbit Andi Yogyakarta



Pemateri: Bapak Edi S. Mulyanta, Moerator: Ibu Hidmi Gramatolina
Narasumber malam ini merupakan seorang Publisher Development pada Penerbita Andi Yogyakarta. Tugas utama seorang publisher development adalah mengembangkan bisnis penerbitan buku. Narasumber menceritakan bahwa banyak kompetensi yang dimiliki oleh para penulis yang kurang dapat menyesuaikan dengan keinginan penerbit. Dalam penerbitan naskah buku, hal yang diinginkan oleh perusahaan penerbitan adalah kepastian pasar dari buku yang diterbitkan. Bagi pihak penerbit, kelengkapan naskah yang akan diterbitkan dapat menyusul. Calon penulis yang ingin naskahnya diterbitkan sebaiknya memberikan penjelasan kepada pihak penerbit tentang apa tujuannya menulis dan mengapa dia menulis. Banyak kasus yang ditemui di lapangan, bahwa penulis sibuk menyempurnakan naskah tulisannya dan lupa menjelaskan prospek tulisan yang dibuatnya kepada penerbit.
Dalam satu bulan, penerbit Andi yang dikelola oleh narasumber menyeleksi 200 hingga 400 naskah yang masuk. Banyaknya jumlah naskah yang masuk tersebut, mengakibatkan tidak tersedianya waktu antara penerbit dengan penulis naskah. Sehingga sebagian naskah tersebut terpaksa ditolak karena perhitungan profit bagi penerbit dan keterbatasan permodalan yang dimiliki oleh penerbit. Beberapa naskah yang diterima oleh penerbit andi untuk dicetak, belum selesai pengerjaannya. Namun karena tulisan itu dipandang memiliki value di mata penerbit, maka penerbit Andi pun tidak segan untuk meloloskannya. Jika naskah tulisan telah dicetak dan dipasarkan, penulis dapat memperoleh royalti dengan besaran 10% dari harga buku dan dibayarkan enam bulan sekali terhitung dari awal terbit.
Narasumber kemudian juga menjelaskan apa yang disebut dengan penerbit mayor dengan penerbit indie. Penerbit mayor yang dikelola oleh narasumber mampu memproduksi hingga ribuan buku dalam satu tahun. Penerbitan buku melalui penerbit mayor juga mempengaruhi angka kredit bagi penulis, angka kredit yang diperoleh penulis jika menerbitkan bukunya melalui penerbit mayor dapat menjadi maksimal. Selain itu, pencetakan buku melalui penerbit mayor juga memiliki kekuatan pasar yang baik. Untuk menerbitkan sebuah buku melalui penerbit Andi, narasumber menyarankan agar penulis mengirimkan proposal terlebih dahulu. Proposal tersebut berisi tentang gambaran tema tulisan, outline buku, sampel bab, sinopsis dan daftar riwayat hidup dari penulis. Naskah buku dapat dikirim kepada penerbit dalam format PDF, dalam bentuk sebagian naskah karena masih merupakan penawaran kepada penerbit.
Jenis buku yang cukup digemari pasar adalah buku anak. Buku jenis ini memiliki persaingan yang ketat, sehingga narasumber menyarankan agar mebuat buku anak dalam bentuk berseri agar lebih menarik, menguntungkan dan memiliki kekuatan pasar. Selain buku anak, buku wayang juga menarik untuk diterbitkan. Unsur yang perlu diperhatikan adalah kualitas materi, foto, dan grafika yang bagus. Namun demikian, buku wayang merupakan buku lokal yang memiliki proses pemasaran berbeda dengan buku reguler. Gambar dan isi buku dapat mengambil dari referensi lain dengan syarat mengikuti prosedur pengutipan yang benar agar tidak melanggar hak cipta.
Narasumber juga menjelaskan tentang aturan dan prosedur untuk menyadur buku dari luar negari yang berbahasa asing. Dalam penerbitan buku saduran, penulis buku harus memiliki kontrak pembelian “Right” untuk mendapatkan hak menerjemahkan buku yang disadur tersebut.

Indinah (resume 11, BM gel 2, 13 Pebruari 2020)

Membangun dan mengelola Sekolah



Pemateri: Dra Betti Risnaleni “Pendiri KB, TK, SD Insan Kamil
Pemateri kali ini adalah seorang penggiat pendidikan. Beliau merupakan pendiri dan pengelola sekolah Insan Kamil.  Pendirian sekolah ini bermula dari permintaan salah satu cabang tempat kursus yang telah didirikannya terlebih dahulu. Kursus yang dikelola oleh pemateri merupakan kursus aritmatika. Kursus ini semula didirikan dengan motivasi untuk mencari lapangan kerja sendiri setelah pemateri memutuskan mengundurkan diri dari tempatnya mengajar agar memiliki waktu lebih bersama sang bauh hati. Kursus aritmatika yang didirikan oleh pemateri dimulai pada tahun 1996. Kursus tersebut merupakan waralaba yang memiliki induk yayasan YAI. Sebagai bagian dari waralaba, kursus yang dikelola oleh pemateri memiliki kewajiban membayar kontrak sebesar 10 juta rupiah per tahun. Enam bulan pertama berjalannya lembaga kursus ini memiliki 3 orang peserta. 2 tahun kemudian, kursus bentukan pemateri mengalami perkembangan yang pesat. Perkembangan ini ditunjukkan dengan memiliki 24 cabang kursus di daerah Bekasi. Bersamaan dengan perkembangan kursus aritmatika yang dikelolanya, ibu Betti juga membuat dan menerbitkan buku panduan belajar aritmatika. Buku ini diproduksi secara mandiri oleh penulis tanpa melalui penerbit. Pemasaran buku ini dilakukan dengan mengenalkan pada sekolah, melakukan presentasi dan membuat pelatihan aritmatika gratis. Setelah mendapatkan materi aritmatika gratis, peserta pelatihan diwajibkan untuk membeli buku hasil karya pemateri.
Dengan pesatnya perkembangan kursus aritmatika dan permintaan salah satu cabangnya, ibu Betti mendirikan TK pertamanya. TK tersebut dibuat dengan akte yayasan Insan Kamil. TK ini awal didirikan pada tahun 2003 bersama dengan seorang teman yang kemudian mengundurkan diri karena pada awal berjalan TK ini mengalami kerugian. Seluruh operasional TK didanai dari hasil penjualan buku aritmatika dan dana pribadi Ibu Betti. Pada awal pendirian sekolah Insan Kamil tidak memikirkan tentang profit, pemateri memiliki keyakinan dan komitmen agar anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dapat memperoleh fasilitas pendidikan yang bagus. Baru pada tahun 2009, sekolah ini memperoleh dana bantuan BOS. Setelah sukses mengelola TK, ibu Betti melakukan pengembangan dengan mendirikan KB dan SD dalam naungan yayasan yang sama. Perkembangan pesat sekolah yang dikelolanya berkat ciri khas sekolah. Sekolah bentukan ibu Betti memiliki daya tarik lebih dibanding sekolah lainnya, dimana siswa TK ditargetkan minimal mampu menghapal ayat kursi dan siswa SD dapat menghapalkan juz ke-30 dalam Al Qur’an yang sering disebut juz amma.
Kisah inspiratif yang dibagikan oleh Ibu Betti ini diharapkan mampu memotivasi pembaca sekalian.

Indinah (resume 10, BM gel 2, 11 Pebruari 2020)